People

This is a selection of inspirational and influential people – people who have made a lasting contribution towards creating a better world, people who wholeheartedly passionate about their work

/
Reyog Ponorogo, Wajahmu Kini. A New Perspective from Wisnu Hadi Prayitno

Wisnu Hadi Prayitno

“Generasi muda harus menjadi Agent of change, Agent of society and Agent of control”.

Wisnu Hadiprayitno, Bacaleg Partai Demokrat Dapil 6 Ponorogo (Kauman, Sampung, Sukorejo). 

Wisnu Hadi Prayitno atau biasa disapa Wisnu HP adalah salah satu penggagas dan penggerak Komunitas Pemuda Hebat Ponorogo. Menurutnya, kenyataan bahwa Indonesia mendapatkan bonus demografi, dimana pemuda sebagai generasi millenial sepatutnya menjadi agen perubahan masyarakat, memiliki peran aktif untuk merangkul dan membangun ide-ide kreatif untuk masyarakat yang lebih maju dan cerdas.

“Tidak perlu menjadi yang pertama, cukuplah jadi yang menginspirasi”.

Simak penuturan penuh inspirasi saya dengan mas Wisnu HP di sela-sela acara gelaran budaya Indonesia Culturan Festival 2018 di Baku, Azerbaijan dalam video singkat yang akan segera tayang menginspirasi Anda. 

Miumosa Editorial copyright 2018

/
Crazy Rich Asians

Kevin Kwan, feat. Feiping Chang, Rachel and Michelle Yeoh, and Heart Evangelista

Heart Evangelista accidentally spilling cheese on her orange lizard-skin Birkin while eating french fries at chili’s and deciding to custom paint the whole bag is exactly the type of filthy rich i aspire to be.

/
Jember Fashion Carnaval 2018: Light of Asia

Jember Fashion Carnaval

The spectacular Jember Fashion Carnaval (JFC) extravaganza will again take center stage this year when it rolls out the carpet in the charming city of Jember in East Java Province, from 9th to 13th August 2017.  The highlight of Jember Fashion Carnaval is the Grand Carnaval - a costume parade on a 3.6-kilometre stage with a theme that is different every year. In 2018 edition, the event will adopt “Cahaya Asia” (EN: Light of Asia) as its theme, because Asian Games will be held in Indonesia in the same year.

The Jember Carnival was the first that started the trend in Indonesia, parading  unbelievably spectacular modern costumes that are rooted in the multiple traditions and cultures across the Indonesian islands.  This most unique, fantastic, and spectacular carnival is attended by hundreds of thousands of visitors, thousands of media, photographers, and fashion observers. They all witness the birth of the nation’s children’s works that are capable of creating creative world-class masterpiece.

Among  notable achievements in costumes designed by JFC are: Best National Costume Miss Supranational 2014 in Warsaw, Poland; Best National Costume Miss Universe 2014 in Florida, USA;  Best National Costume Miss Supranational 2015 in Warsaw, Poland; Best  National Costume Miss Grand International 2016 in Las Vegas USA; and Best National Costume Miss Tourism International 2016 in Malaysia.

/
Batik Colors UNESCO Paris headquarters

Bhakti Budaya Djarum Foundation

Held at UNESCO headquarters in Paris, France, the “Batik for the World” exhibition is slated to run until June 12, displaying works by Oscar Lawalata, Edward Hutabarat and Denny Wirawan.

Promoted by Bhakti Budaya Djarum Foundation, the week-long exhibition seeks to present the wealth of culture, rich history and development of Indonesian batik by connecting batik artisans and the art of fashion today. 

Around 100 batik outfits have been curated jointly by the Indonesian Batik Foundation (YBI), Rumah Pesona Kain and Oscar Lawalata Culture to be displayed in Miro Hall and Segur Hall at the UNESCO headquarters in the French capital.

 

/
Inspirasi Menata Ruangan Menyambut Hari Raya

MIUMOSA

Inspirasi menata ruangan untuk menyambut Hari Raya. 

 

Terima kasih atas dukungan untuk Miumosa. Semoga silaturahmi akan terjalin di masa yang akan datang. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. 

Miumosa.com

 

/
Inside Aemtobe with Anas Maghfur

Anas Maghfur

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.” Berkontribusi lah dan jadi lah valuable bagi umat manusia.

Kisah kehidupan yang berliku-liku dan melewati asam garam kehidupan tidak membuat gentar dan faktanya, menjadi sebuah lecutan untuk maju dan menjadi sesuatu. Banyak saya temui, sosok-sosok yang seperti inilah yang melampaui arti sebuah kesuksesan dalam kehidupan. Anas Maghfur, sosok inspiratif #kampanyebudaya dan pendiri Aemtobe adalah salah satunya. Anindya Sukarni, untuk Miumosa

                                                                                                              ***

Nama “Aemtobe” dan sosok Anas Maghfur mungkin sudah tak asing lagi di bumi Khatulistiwa.  Produknya sudah sering dipakai oleh banyak kalangan, termasuk para petinggi pejabat pemerintah kota. Dedikasinya untuk memajukan tenun Samarinda sebagai bagian dari warisan kearifan lokal begitu nyata dirasakan masyarakat luas. Ibarat gayung bersambut, inisiasi ini mendapat dukungan dan apresiasi penuh dari Bank Indonesia Kaltim dan Bank Mandiri melalui program KUB Mitra Andalan dan Wirausaha Muda Mandiri. Belum lagi, pria kelahiran Kediri, 10 Mei 1983 ini, secara tidak langsung turut mengedukasi dan membuka lapangan pekerjaan bagi puluhan pengrajin tradisional tenun di Kampung Tenun Samarinda.

Lantas, apa yang menjadi begitu spesial bagi Miumosa?

Seperti tagline Miumosa is Not for Casual, Superfans Only, kami membuka pintu kolaborasi dengan beragam pihak yang memiliki kesamaan visi dalam menggarap dan memajukkan potensi pasar Niche di Indonesia. Corak tenun tidak biasa Tabba Male BI dan Balo Sikko Laa begitu memesona kami.  Corak ini akan turut memberi nafas pada koleksi sepatu Miumosa Red Carpet 2018 yang akan datang.

Kain tenun Samarinda adalah sebuah karya kerajinan berupa tenunan tradisional yang erat kaitannya dengan sejarah berdirinya kota Samarinda sehingga memiliki kearifan lokal yang sangat kental. Kerajinan ini awalnya dibawa oleh pendatang suku Bugis Sulawesi pada tahun 1668 M dan telah berhasil memadukan kultur budaya suku Bugis, Dayak dan Kutai. Sarung Samarinda dikerjakan oleh tangan-tangan terampil dengan masa pembuatan kurang lebih lima belas hari dengan menggunakan dua teknik yakni “Gedokan” (Alat Tenun Duduk) dan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).

Balo Sikko Laa dan Tabba Male BI, dua corak tenun tak biasa.

Kedua motif ini sangat memesona, karena berbeda dari pakem tenun Samarinda pada umumnya yang bercorak kotak-kotak dengan warna dominan tua dan kontras seperti hitam, putih, merah, ungu, biru laut, dan hijau. Corak Sarung Samarinda sangatlah beragam, serta memiliki makna dan nilai filosofi masing-masing. Beberapa corak yang terkenal adalah Hatta, cokkah manipih, mammaruwe, dan lebak suasa.

Balo Sikko Laa, diambil dari kata “sikola”, dalam Bahasa Bugis artinya “coklat atau kecoklatan”. Ciri khas corak ini adalah dominasi warna coklat dengan aksen warna biru. Corak ini merupakan buah karya dan pemikiran dari Anas Maghfur bersama Herlina, salah seorang pengrajin tenun di Samarinda.

Sedangkan, motif Tabba Male BI merupakan pengembangan dari motif Tabba Golo dan Tabba Mare-Mare. Motif yang bermakna anggun, ramah, sopan, terhormat dan selalu memberikan yang terbaik ini, merupakan perpaduan lembut tiga warna yakni biru, putih dan merah marun. Penyisipan kata “BI” pada Male BI merujuk pada Bank Indonesia Kaltim yang memprakarsai dan mendukung terciptanya motif tenun ini.

 Why Aemtobe?

Sejujurnya, saya cukup gregetan dengan nama brand ini, why “Aemtobe?” Ternyata pemilihan nama ini tidak sembarangan dan bukan tanpa sebab. “Nama Aemtobe itu sudah ada dalam angan-angan saya sejak duduk di bangku sekolah. It is so Me!”, ungkap pria yang pernah menyabet sejumlah penghargaan bergengsi di Indonesia dan sempat merambah pameran di beberapa kota di luar negeri.

Aemtobe juga merupakan sebuah ungkapan “doa” yang berasal dari kata “I am To Be” yang artinya “Saya Ingin Menjadi” yang memiliki visi dan misi memajukan budaya lokal dan memperkenalkan kain tenun nusantara dalam bentuk pakaian jadi yang lebih modern, trendi dan elegan tanpa mengurangi makna filosofi dan keanggunan menyertainya.

Sebagai bentuk konsistensi menjunjung kearifan lokal, Aemtobe mengembangkan pendekatan eco-fashion dengan penggunaan bahan pewarna alami yang ramah lingkungan.

“Sudah tercetus idenya di tahun 1997. Brand Aemtobe resmi diperkenalkan sejak 2012. Selain itu, rancangannya sendiri dibuat terbatas, sehingga tidak pasaran dan terjaga eksklusif.”, tambah lelaki yang pernah menjuarai Wirausaha Muda Mandiri se-Kalimantan di tahun 2014 dan masuk nominasi Njonja Meneer Awards 2016 kategori Culture Preneur.

Budaya Bangsaku adalah Raja di Tanah Airku

World is Flat. Fenomena gempuran brand-brand asing memasuki Indonesia secara massive begitu nyata sejak dibukanya pasar bebas Asia beberapa tahun yang lalu. Perilaku masyarakat Indonesia yang konsumtif dan menganggap brand luar lebih keren, seraya membuat orang kalap membeli produk dari luar negeri.

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value”, sepenggal nukilan Einstein. Anas pun  menginisiasi gerakan sadar budaya untuk mengenali, mencintai, melestarikan budaya-budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Gerakan bertajuk tagar #KampanyeBudaya ini viral di media sosial Instagram. Program-program on the road seperti #KampanyeBudaya goes to School, keterlibatan duta-duta pariwisata sebagai bagian dari kampanye, tur dari radio ke radio, sampai dengan aktif mengikuti ajang komunitas budaya dan sosial, membuat Anas didapuk sebagai Bapaknya #KampanyeBudaya dan menyabet predikat Ethnic-preneur, Pengusaha Pelestari Budaya.

“Tidak ada kaitan langsung dengan Aemtobe. #KampanyeBudaya ini adalah murni bentuk keperdulian saya, kecintaan saya terhadap kearifan budaya lokal, sumbangsih saya untuk melestarikan tenun Nusantara dan membuat orang Indonesia bangga memakai produk sendiri”, tutup Anas dalam sebuah kesempatan interview, sehari sebelum jadwal lawatannya ke Malaysia dalam rangka mengikuti ajang Fashion Show di sana.

“Nah, terjawab sudah kan? Begitu banyak fakta terungkap, mengapa Miumosa begitu antusias berkolaborasi dengan Aemtobe dan sosok Anas maghfur.

 

/
History of Fashion: What makes the 1950s so Glowing in Fashion?

Fashion in 1950s

“Skirts, whether flowing or thight, were style staples for woman.”

Women's fashions of the 1950s reflected a complicated mix of conservatism and glamor: a girl-next-door freshness as well as alluring femininity. Women who had lived through the privations of the Great Depression and World War II were now able to afford new styles and embraced them all, from the elegance of grand, sweeping skirts to shorts.

/
Build For People

Maulana Murdan

There are similarities between China World Trade Center Tower in Beijing, China, and Telkom Landmark Tower in Jakarta. In both buildings, there is a Maulana Murdan’s signature.

Maulana Murdan, Principal at Woods Bagot, a global design and consulting firm in San Francisco, started his career since 1995. The graduate architect of the Faculty of Architectural Engineering, ITB, has proved that Indonesian college graduates can compete in the world of international work.

Along with eighteen years of international experience in large, mixed-use projects, his architecture career has given him the opportunity to design projects across the globe. With extensive experience in Singapore, where he worked for seven years, as well as projects in Indonesia, Malaysia, India, China and Middle East.

Ideas, Innovation and Inspirational Thought will certainly encourage you.  

The role of architects is not really limited to designing buildings, Architects must also be able to elaborate various aspects such as art, technology, humanities, history, social politics, nature and provide meaning for those who live and work in that space or environment.

Identify your own uniqueness. Exploration of innovation and creativity, may not only an added value but also crucial in creating an ideal design.

The diversity of thinking and habit with different culture may an obstacle. Although in the end, that it creates a much more dynamic dialogue and all problems are solved by good design.

My passion and great enjoyment for architecture, and the reason the older I get the more I enjoy it. I believe, it can affect the people’s quality of life.

Source: VOA Indonesia and Media Indonesia.