Holding UMKM | 22–24 Desember 2025 | Smesco Hall, Jakarta
Di tengah fragmentasi usaha kecil dan menengah, Holding UMKM hadir sebagai sebuah pendekatan strategis—bukan sekadar struktur bisnis, melainkan arsitektur kolaborasi yang memungkinkan kekuatan lokal bertumbuh dalam skala global.
Diselenggarakan pada 22–24 Desember 2025 di Smesco Hall, Jakarta, forum Holding UMKM menjadi ruang diskursus dan praktik tentang bagaimana UMKM tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung dalam satu ekosistem yang terkoordinasi, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Holding UMKM memosisikan diri sebagai jembatan antara potensi lokal dan kebutuhan pasar global—menyatukan nilai, kapasitas, dan arah melalui sistem yang terstruktur.
Identitas Lokal sebagai Bahasa Global: Perspektif Miumosa
Dalam forum ini, Anindya Sukarni, Founder & CEO Miumosa, menegaskan bahwa identitas lokal tidak harus berhenti sebagai simbol budaya, tetapi dapat ditransformasikan menjadi bahasa visual dan narasi brand global.
Tiga identitas Miumosa—monogram, kawung, dan trisita—dengan palet hitam, putih, dan emas, tidak hanya merepresentasikan akar lokal, tetapi juga dirancang sebagai bagian dari sistem identitas global Miumosa.
Identitas tersebut hadir konsisten di seluruh desain, produk, dan layanan Miumosa, menjadikannya bukan sekadar ornamen estetika, melainkan alat komunikasi nilai yang dapat dipahami lintas budaya dan pasar. Inilah bentuk nyata bagaimana UMKM dapat mengemas kearifan lokal dalam standar global tanpa kehilangan esensi.
Empat Pilar Holding UMKM
Agar UMKM dapat masuk dan bertumbuh dalam ekosistem holding, terdapat empat pilar utama yang menjadi fondasi:
Keempat pilar ini menjadikan Holding UMKM bukan hanya model organisasi, tetapi platform pertumbuhan jangka panjang.
Menuju UMKM yang Terkurasi dan Berdaya Saing Global
Holding UMKM menandai pergeseran paradigma: dari UMKM sebagai unit kecil yang bertahan, menjadi entitas kolektif yang terkurasi, profesional, dan siap bersaing di pasar global.
Bagi Miumosa, konsep holding sejalan dengan visi membangun rantai nilai yang inklusif—di mana desain, budaya, keberlanjutan, dan tata kelola berjalan beriringan. Identitas lokal tidak ditinggalkan, justru diperkuat melalui struktur yang tepat.
Holding UMKM adalah arsitek kolaborasi global—dan di sanalah kekuatan lokal menemukan skalanya.(RED)